Perbedaan Kecerdasan IQ dan EQ

Dua di antaranya yang akan dibahas lebih lanjut dalam artikel ini adalah perbedaan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Seringkali kecerdasan Seseorang dilihat dari segi akademis atau nilai IQ saja. Padahal, kecerdasan itu memiliki pengertian yang sangat beragam. Dua di antaranya yang akan dibahas lebih lanjut dalam artikel ini adalah kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).

IQ – Intelligence Quotient

Perbedaan IQ dan EQ

IQ atau nilai kecerdasan seseorang. Nah ini sebenarnya konsep yang udah ada sejak akhir abad 19, kira-kira di tahun 1890-an, yang pertama kali dipikirin oleh Francis Galton (sepupunya Charles Darwin, Bapak Evolusi).

Berlandaskan dari teorinya mengenai konsep survival dari individu dalam suatu spesies, yang disebabkan oleh “keunggulan” sifat-sifat tertentu dari individu yang diturunkan dari orangtua masing-masing, Galton menyusun sebuah tes yang rencananya mengukur intelegensi dari aspek kegesitan dan refleks otot-otot dari manusia. Baru pas awal abad 20, Alfred Binet (dibaca: Biney), psikolog dari Perancis, ngembangin alat ukur intelegensi manusia.

Dari alat ukur ciptaan Binet ini, akhirnya berkembang alat-alat ukur IQ sampe yang kita kenal sekarang.

Gara-gara orang mulai sadar bahwa pentingnya intelegensi dan pengetesannya, para ahli psikologi meneliti hipotesis tentang kecerdasan. Banyak sekali yang akhirnya muncul dengan pendapat yang berbeda-beda, masing-masing dengan bukti yang dianggap kuat oleh masing-masing pihak.

Ada yang menganggap bahwa kecerdasan adalah konsep tunggal yang dinamakan faktor G (General Intelligence). Ada juga yang menganggap kecerdasan itu pada intinya terbagi jadi dua macam set kemampuan, yaitu fluid (Gf) dan crystallized (Gc).

Berbagai macam pengetesan kecerdasan mengacu ke pandangan-pandangan ini sepanjang abad ke 20.

Tapi yang lagi ngetren sekarang yang namanya multiple intelligence, atau kecerdasan berganda yang dicetuskan oleh Howard Gardner di tahun 1983. Gardner menyebutkan bahwa kecerdasan manusia bukan merupakan sebuah konsep tunggal atau bersifat umum, namun merupakan set-set kemampuan yang spesifik dan berjumlah lebih dari satu, yang semuanya merupakan fungsi dari bagian-bagian dari otak yang terpisah, serta merupakan hasil dari evolusi manusia selama jutaan tahun.

Gardner awalnya membagi kecerdasan manusia menjadi delapan kategori yaitu:

  1. (a) Music-rhythmic & Harmonic,
  2. (b)Visual-spatial,
  3. (c) Verbal-linguistic,
  4. (d) Logical mathematical,
  5. (e) Bodily-kinesthetic,
  6. (f) Intrapersonal,
  7. (g) Interpersonal,
  8. (h) Naturalistic.

Nah, seiring berjalannya waktu, akhirnya Gardner menambahkan lagi aspek kecerdasan kesembilan, yaitu (i) Existential – yang mencakup sisi spiritual dan transendental. Walaupun populer, teori ini mendapat banyak kritik karena kurangnya bukti empiris.

Nah, oleh karena itu, sampai sekarang para ahli belum sepakat dalam memberikan definisi apa itu kecerdasan, diukur dengan alat apa, serta apa arti dari skor kecerdasan seseorang.

Emotional Quotient Intelligence

emotional-intelligence Perbedaan IQ dan EQ

Istilah EQ (yg arti harafiahnya itu “hasil pembagian dari emosi) itu salah. Lebih tepat digunakan kecerdasan emosional untuk menjelaskan konsep yang dimaksud. Makanya para ahli lebih milih istilah emotional intelligence (EI).

EQ (atau EI), Sering sekali kita dengar orang-orang awam suka ngomong “Percuma IQ tinggi tapi EQ jeblok” atau semacamnya. Sering kan?

EQ pertama kali dikonsepkan oleh Keith Beasley pada tulisannya pada artikel Mensa pada tahun 1987. Tapi, istilah ini baru benar-benar mendunia (dan udah ganti jadi EI) setelah Daniel Goleman pada bukunya “Emotional Intelligence – Why it can matter more than IQ” yang terbit pada tahun 1995.

Walaupun buku ini dianggap bukan sebagai buku akademik, tapi konsep EI yang disusun oleh Goleman bikin para ahli psikologi rame-rame bikin penelitian tentang hal ini.

Kecerdasan Emosional, pada intinya adalah kemampuan kita buat mengidentifikasi, mengukur, dan mengontrol emosi diri sendiri, orang sekitar, dan kelompok.

Para peneliti EI punya posisi bahwa EI lebih penting daripada sekadar kecerdasan kognitif. Goleman sendiri membagi kemampuan-kemampuan emosional menjadi lima kemampuan:

  1. (a) kesadaran diri,
  2. (b) kontrol diri,
  3. (c) kemampuan sosial,
  4. (d) empati,
  5. (e) motivasi.

Goleman berpendapat bahwa tanpa kelima kemampuan ini, orang yang memiliki IQ tinggi akan terhambat dalam kegiatan akademik serta pekerjaan.

Walaupun laku keras di kalangan umum, banyak ilmuwan dan praktisi psikologis yang tetap skeptis dengan kecerdasan emosional. Yang paling mereka kritik adalah pengetesannya. Ilmuwan harus bekerja berdasarkan bukti. Jika seorang ilmuwan di bidang apapun bikin suatu hipotesis, harus didukung dengan pengukuran yang akurat. 

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

Intelligence Quotients (IQ)

adalah kemampuan seseorang untuk menalar, memecahkan masalah, belajar, memahami gagasan, berpikir, dan merencanakan sesuatu. Kecerdasan ini digunakan untuk memecahkan masalah yang melibatkan logika.

Sementara itu, Emotional Quotients (EQ)

merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, mengendalikan, dan menata emosi serta perasaan, baik itu perasaan sendiri maupun perasaan orang lain. Kecerdasan ini juga memberi kesadaran mengenai rasa empati, cinta, kemampuan memotivasi diri, dan kemampuan untuk menghadapi kesedihan dan kegembiraan secara tepat.

Kedua jenis kecerdasan itu tidak bisa dipisahkan, sehingga jika ditanya mana yang paling penting di antara keduanya, tentu saja keduanya penting untuk dimiliki.

Penting bagi kita pula untuk mengetahui lebih dalam mengenai perbedaan antara IQ dan EQ, sebagai berikut:

Baca juga : Konsep Kecerdasan Intelektual Manusia dalam Proses Pembelajaran

IQ Dibawa Sejak Lahir, sedangkan EQ Dapat Diasah

IQ merupakan kecerdasan yang dibawa oleh anak sejak lahir, sedangkan EQ adalah kecerdasan yang berkembang seiring pertumbuhan psikis anak. Perkembangan EQ dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor luar, seperti lingkungan yang dapat mendukung kecerdasan emosional si anak lebih terarah.

Sementara itu, meskipun bawaan sejak lahir, bukan berarti IQ seorang anak tidak bisa berkembang. Ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari berbagai jalur pendidikan, akan membuat kecerdasan intelektual anak menjadi terasah.

Baca juga : Cara Menulis Artikel SEO Friendly untuk Website

IQ=Logika, EQ=Empati

Menurut para pakar psikologi, IQ merupakan kemampuan intelektual yang dimiliki anak untuk memecahkan sebuah masalah dengan unsur-unsur matematik dan logika. Sementara EQ merupakan kemampuan untuk menghadapi masalah dengan melakukan berbagai pertimbangan emosi, empati untuk menempatkan diri dalam suatu kondisi, sebelum akhirnya membuat sebuah keputusan.

IQ Membuat Pandai dalam Angka, sedangkan EQ Membuat Pandai dalam Bersosialisasi

Anak yang memiliki IQ tinggi akan memiliki keunggulan dalam mengerjakan persoalan yang membutuhkan analisis data matematis, sedangkan anak yang memiliki EQ tinggi akan unggul dalam hal sosialisasi. Rasa empati tinggi yang dimiliki anak dengan EQ tinggi akan membuatnya mudah dekat dengan orang-orang di sekitarnya.

Baca juga : Cara Membuat Website Sendiri dan Mobile Friendly

EQ Tinggi Lebih Berpotensi Menjadi Pemimpin yang Baik

Seperti disebutkan tadi, bahwa anak dengan EQ tinggi akan lebih mudah dekat dengan orang-orang di sekitarnya, karena selalu bertindak menggunakan empati. Karena itu pula lah, mereka dengan EQ tinggi lebih berpotensi menjadi pemimpin yang baik. Namun, bukan berarti mereka yang ber-IQ tinggi tidak bisa menjadi pemimpin, ya. Mereka yang memiliki kecerdasan intelegensi tinggi akan cenderung bisa sukses secara individual, yang akan terlihat dari kecerdasannya secara akademis.

Meski kecerdasan IQ dan EQ berbeda, namun keduanya merupakan hal yang penting dalam mencapai kesuksesan dalam hidup. Demikian Artikel Perbedaan IQ dan EQ, disini kita bisa melihat bahwa kedua nya memiliki peranan yang berkesinambungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here